Translate

Sunday, 19 January 2020

New Star Bagian 3

                                     New Star
                                     Bagian 3

            
Pada Minggu pagi sebelum berangkat besok ke Padang untuk PSBR Cup, Ali sudah datang ke lapangan sendirian meskipun tidak ada jadwal latihan karena para pemain diberi waktu satu hari untuk istirahat sebelum ke Padang. Ali melatih akurasi tendangannya dengan memasukkan bola kedalam gawang kecil berukuran panjang 75cm dan tinggi 50cm , Ali mencoba memasukkan bola dari luar kotak penalti namun tidak satupun yang berhasil masuk. “Sial, kenapa aku sangat sulit memasukkannya” ujar Ali yang bergumam didalam hati karena mulai kesal, “kau terlalu memaksa Ali!” teriak bang Reza dengan tegas dariluar lapangan. “Eh bang Reza, hehe aku hanya mencoba akurasi tembakannya bang” sahut Ali kepada bang Reza dengan senyuman. Bang Reza masuk lapangan dan mengambil sebuah bola “mau bermain sepakbola gawang kecil one on one?” ajak bang Ali, “boleh bang ayoo”, sahut Ali dengan penuh semangat.
Ali dan bang Reza mulai bermain, mereka hanya memakai setengah lapangan sepakbola, dengan menggunakan 2 buah gawang kecil tadi. Ali memegang bola terlebih dahulu, baru memulai serangan Ali langsung tersendat oleh hadangan bang Reza “sial, kuda-kudanya sangat rapidan tidak ceroboh seolah tidak ada celah bahkan untuk nut make (melewati lawan dengan memasukkan bola memalului kolong lawan) sangat mustahil” ujar Ali dalam hati. Terlalu lama berfikir bang Reza langsung merebut bola yang dipegang Ali, Ali terkejut dan langsung mengejar bang Reza yang mendribble bola namun tampaknya laju bang Reza dengan membawa bola sangat cepat, Ali tidak bisa mengejar dengan mudah bang Reza unggul 1-0. Ali terus berusaha menghentikan permainan bang Reza namun tidak bisa dalam 10 menit skor sudah 10-0, “oh iya aku mungkin tidak bisa mengejar larinya tapi aku bisa membaca gerakannya dengan membaca batinnya” Ali mendapatkan ide dan diam-diam dia menunjuk bang Reza. “Pegang bola kekiri bawa kekanan kembali kekiri lakukan tipuan solah kekanan dan dribble kekiri” ujar batin bang Reza.
“Aku tahu bergerak kekiri sekali saja dang bersiap untuk menghadangnya” bisik Ali dalam hati sambil bergerak kekiri, benar bola berhasil dipotong Ali dengan cepat Ali mendribble bola dan langsung melepas tembakan jarak jauh karena Ali sadar lari bang Reza sangat cepat sekalipun bukan pemain sayap. Beruntung tembakan Ali masuk skor menjadi 10-1, perlahan Ali menemukan permainanbang Reza meskipun masih kebobolan setidaknya Ali bisa membalas dan tidak kebobolan sebanyak tadi, akhirnya pertandingan berakhir dengan skor 17-5. Mereka berdua lalu duduk ditepi lapangan, “kau hebat Ali” puji bang Reza dengan nafas sedikit terengah-engah sambil menepuk bahu Ali, “haha tidak bang, aku dibantai loh bang 17-5” balas Ali yang menyadari ketertinggalannya yang sangat jauh. “Kau hanya perlu berlatih lebih sering Ali, baru kali ini ada yang bisa menebak pergerakanku selain Tirta dan Denis temanku smp dulu” bang Reza seolah yakin Ali akan menjadi pemain yang hebat, “maaf bang aku tidak kenal mereka” jawab Ali dengan polos.
Bang Reza mengambil bola disebelah dia duduk lalu melempar bola itu ke arah kepala Ali, “bodoh, tentu saja kau tidak kenal dasar polos” ucap bang Reza seolah bercanda. Ali tidak menyangka bang Reza yang selama ini dia kenal tegas dan jarang tersenyum bisa bercanda, “tapi kau akan bertemu dengan Tirta di semifinal PSBR Cup Ali!” bang Reza seolah yakin SMA 1 Nusa Bangsa Bukittinggi lolos ke final. “Kemaren sore aku dapat berita SMA YPR(yayasan pendidikan Riau) menang 20-0 melawan satu dari 3 wakil Bukittinggi di PSBR Cup, mereka menghajar 20-0 dari SMA Gelora Bukittinggi lawan kita di final dengan mudah” bang Reza menjelaskan dengan sedikit takut mengenai kehebatan SMA YPR. “Lantas apakah Tirta ada disana bang? Maksudnya bang Tirta?” tanya Ali, “Jelas dia mencetak 10 gol saat itu, pemain SMA YPR termasuk cadangan mencetak satu gol, dan dia mencetak 10 gol” jawab bang Reza. “Aku ingin tahu bang seberapa hebat bang Tirta yang abang tahu dan kenapa kita besar kemungkinan tembus ke semifinal dan melawan SMA YPR” tanya Ali yang sangat penasaran.
Bang Reza mulai bercerita tentang kenangan masa lalunya saat smp, “waktu itu kami dijuluki sebagai trio maut dengan formasi 4-3-3 kami berperan sebagai 3 penyerang di depan.  Tirta sebagai striker sayap kiri, Denis sebagai striker sayap kanan dan aku bertugas sebagai striker tengah karena lariku paling lambat dari ketiganya”. Ali terkejut mendengar itu, dia tidak menyangka bang Reza yang sangat cepat saat dia bermain tadi ternyata adalah paling lambat dari ketiganya. “Kau terkejut Al?, ya kami bertiga adalah pemain tercepat di piala nasional, akan tetapi Denis lebih cepat dua kali dariku sedangkan Tirta 10 kali lebih cepat dariku” bang Reza seolah menyadari bahwa  Ali terkejut mendengar bahwa ada yang lebih cepat darinya. Memang wajar Ali terkejut, bang Reza adalah pemain tercepat di Piala Pelajar Bukittinggi kecepatan bang Reza pemain sayap sekalipun dia tidak berposisi debagai sayap. Bang Reza berdiri sambil mengambil bola yang tadi dia lempar kepada Ali, lalu melanjutkan cerita “akan tetapi keseimbangan kami mulai hancur setelah juara piala nasional, saat kami masuk kelas 3 smp, awalnya kami bertiga merasa sombong rasanya tim sangat bergantung dengan kami bertiga”.
Bang Reza menghentikan ceritanya dan duduk sambil memegang bola tadi, lalu lanjut bercerita “lama-kelamaan kami bertiga mulai tidak kompak meski kami juara piala nasional kedua kalinya akan tetapi Denis dan Tirta seolah bersaing ingin menjadi yang terbaik, rasanya tim kami sudah hancur. Denis memang tidak secepat Tirta tapi dia adalah pemain yang dijuluki sebagai sikaki gila, kakinya sangat cepat bahkan mustahil merebut bola darinya. Persaingan mereka berdua sebagai pemain terbaik membuat tim hancur, perlahan posisiku di tim sama dengan pemain lainnya tidak berarti lagi. Strategi tim seolah percuma, bahkan bermain secara acak dan asalpun tidak apa asal tim menang. Pelatih yang menyadari tim itu telah hancur sudah berusaha keras menyadarkan Tirta dan Denis tapi sia-sia, pada akhirnya banyak yang keluar dari tim menjelang Piala Pelajar Jakarta Pusat yang diadakan 2 bulan sebelum aku lulus smp.
Karena kekurangan pemain kami di anggap gugur, pelatih kami akhirnya memutuskan untuk membubarkan tim sepakbola smp kami. Saat aku masuk sma aku memilih sma yang berbeda dengan Denis agar aku tidak menghancurkan tim lagi, bahkan semenjak itu aku menyadari kesalahanku dan lebih menyukai kerja sama tim. Sementara Tirta masuk sma di Pekanbaru karena ayahnya dinas disana. Tahun pertama aku bermain untuk sma, aku langsung ditunjuk pelatih sebagai kapten hasilnya aku berhasil membawa sma ku juara nasional, akan tetapi aku tidak bertemu dengan Denis dan Tirta tetapi aku mendengar kabar bahwa dua sma yaitu SMA 5 Garuda Jakarta Pusat, sma tempat Denis bersekolah dan SMA YPR tidak ikut mendaftarkan tim mereka ke turnamen”.
“Lalu kenapa kita sangat besar kemungkinan bertemu dengan SMA YPR di semifinal nanti bang?” Reza kembali menanyakan pertanyaan yang tadi belum terjawab. Bang Reza berdiri memandang lapangan sambil memegang bola dengan tangan kanannya lalu melemparnya ke lapangan sembari menjawab pertanyaan Ali, “menurut peta turnamen PSBR Cup kita akan bertanding dua kali pertama di babak 24 besar dan 6 besar lalu semifinal. Sementara sma lain ada yang bertanding 3 sampai 4 kali baru semifinal, kita beruntung saat undian kita mendapat posisi yang jelas menguntungkan. Setelah SMA YPR menang mereka akan lolos ke babak 12 besar lalu 8 besar dan semifinal, rasanya bagi sma tersebut tidak akan sulit melawan tim selanjutnya jika laga sebelumnya sudah menang 20-0. Aku sangat yakin Tira tidak akan kesulitan menghadapi lawan tersebut, dengan kehebatannya yang kukenal selama ini bahkan aku yakin dia jauh lebih kuat sekarang rasanya tidak akan sulit baginya  mencapai semifinal, terlebih yang aku dengar pemain lainya SMA YPR setara dengan pemain nasional”.
Bang Reza yang masih berdiri menoleh ke arah aula dekat lapangan tampak seorang gadis yang melambaikan tangan kearahnya, “bang aku sudah selesai latihan tari, ayo pulang” gadis itu bersorak dari kejauhanlalu berjalan kearah bang Reza. Ali tentu kenal dengan gadis itu, gadis cantik itu adalah Widya yang sering dia acuhkan selama ini, Ali bukan tidak tertarik padanya hanya saja Ali belum terpikir untuk jatuh cinta fokusnya hanya pada pendidikan dan sepakbola. “Aku pulang dulu Ali, adikku sudah selesai latihan tari terima kasih sudah mau bermain denganku” ucap bang Reza yang terus memandangi Widya dari kejauhan. “Abang, adalah abangnya Widya?” tanya Reza seolah tidak percaya. “Tentu dia adalah adikku. Tidak mirip bukan?, yaa karena dia adik angkatku, sudah ya abang kesana dulu kasihan Widya berjalan kejauhan. Sampai jumpa Al!” bang Reza lalu pergi meninggalkan Ali. Widya yang menyadari ada Ali disana menegur Ali dengan penuh ceria “Haiii Ali!”, “eh Wi.....Widyaa” balas Ali agak terkejut dan gugup sambil melambaikan tangannya.
Ali hanya memandang gadis itu berjalan dengan abangnya dari kejauhan, “aku baru sadar dia cantik, dia sangat cantik dia mungkin tidak berkulit putih tapi dia penuh semangat harinya selalu ceria aku selalu senang melihanya, matanya juga lentik dan senyumannya manis dengan bibir merah walau tidak pakai lipstik” Ali berkata-kata sendiri seolah mulai terpesona dengan Widya yang selama ini dia acuhkan. Ali baru sadar dia bisa membaca batin seseorang dia menunjuk Widya dari kejauhan “Al, aku mencintaimu” Ali begitu senang mendengarnya rasanya seperti bebunga-bunga serasa ingin terbang tinggi. “Aku juga mencintaimu Widya” balas Ali dengan suara kecil. “Wahhh Ali jatuh  cinta sama Widya ya? Wahhh biar aku sampaikan kenapa malu-malu seperti ini” Haikal tiba-tiba muncul dari belakang Ali. Ali sangat terkejut lalu bertanya “ Haikal sejak kapan kau disini?”, “tadi waktu aku jajan lewat lapangan aku melihat kau berbincang dengan bang Reza jadi aku nguping deh. Tapi ada yang lebih penting dari pada SMA YPR yaitu cinta yang harus disampaikan” Haikal dengan penuh semangat mengejar Widya yang akan naik motor di bonceng bang Reza.
“Sial kau kenapa sihhh kal?” Ali antara kesal dan takut Haikal mengejar Widya meski dia tahu Widya menyukainya tapi dia masih malu dan gugup. “Hei,  ratu Widya ada yang jatuh cinta denganmu namanya pangeran Ali katanya aku mencintaimu” Haikal terus bersorak sambil mengucapkan itu kearah Widya yang dibonceng bang Reza, sepertinya Widya tidak mendengar motorn yang ditumpanginya sudah berjalan jauh meninggalkan Haikal yang terus bersorak penuh semangat. “Yahhh, Widya pergi jauh dehh” ujar Haikal tampak lesu, dari kejauhan Ali datang dan memukul kepalanya” kau kenapa sih bodoh?” Ali bertanya dengan kesal. “Awwww akit tahu, baguslah Widya tahu berarti dia mau mengikat hatinya kepadamu dari pada di tikung sakitnya tuh disinih!” jawab Haikal sambil menunjuk dadanya. “Tapi ga gitu juga kal, kan butuh proses dulu kau ini cepat kali” ujar Ali sambil menggosok-gosok rambut kribo Haikal, “iyadeh maafin aku yaa, tapi kau tak usah marah nanti aku bantu deketin Widya dengan cara profesional, nihh nomor WA Widya” ucap Haikal sambil menunjukkan konta WA Widya.
“Mana bagi aku Kal?” Ali terlihat sangat antusias ingin mendekati Widya, “yaelahh kalau itu baru kau senang mana hp mu?’ Haikal meminta hp Ali. Ali lalu menyerahkan hp miliknya kepada Haikal, dari kejauhan Ali terkejut melihat lelaki berkacamata hitam kembali memandangnya dari jauh “Kal, pegang dulu ya aku mau kekedai” Ali menitip hp miliknya pada Haikal, “oke Breyyy” balas Haikal yang sibuk menyalin kontak Widya ke hp Ali. Ali langsung mengejar lelaki berkacamata hitam itu, lelaki itu langsung berlari dengan sangat cepat. Ali terus mengejar lelaki itu yang berlari kearah pasar dengan cepat, “heyyy tunggu kau siapa kenapa terus membututiku?” Ali bersorak sambil terus mengejarnya. Lari lelaki berkacamata hitam itu sangat cepat lelaki itu masuk kedalam gang sempit di tengah pasar pas yang diapit dua toko gang itu sangat semoit dan pas untuk satu orang, “heyy jangan lari-lari di pasar!” Ali banyak mendapat teguran orang di pasar akan tetapi tidak satupun orang-orang yang melihat lelaki itu. Ali masuk kedalam gang tersebut yang tembus pada lapangan bola luas yang dikelilingi tembok batu tampak lelaki itu berhenti di tengah lapangan.
“Sekarang kau mau kemana? Ayo perlihatkan dirimu!” Ali mendekati lelaki itu dan menyuruhnya memperlihatkan wajahnya. Lelaki itu hanya tersenyum lelaki itu lalu melihat pintu besi yang terlihat di gembok lelaki itu berlari kearah sana, Ali mengejarnya “mana mungkin kau bisa mendobraknya menyerahlah” Ali menyuruh lelaki berkacamata hitam itu berhenti. Ali terkejut, diluar dugaannya lelaki itu memanjat tembok setinggi 2 meter itu seperti pemain parkur, Ali lalu memanjat tembok itu meski jauh lebih lambat dari lelaki itu. Tembok batu itu langsung tembus ke jalan yang berjarak 100 meter dari lapangan. Ali kehilangan jejak lelaki itu “sial aku kehilangannya dia terlalu cepat” ucap Ali. “Lebih baik aku membiarkannya untuk sementara waktu dan kembali ke lapangan karena hp ku masih di Haikal” ucap Ali sambil pergi kearah lapangan. Sebenarnya lelaki itu tidak lari jauh tetapi lelaki itu bersembunyi di balik mobil hitam sambil bersandar untuk beristirahat, “huaaa aku lelah sekali sekarang Ali sudah lebih cepat, berjanjilah untuk bertemu denganku di piala nasional Ali” ujar lelaki itu sambil memandang gelang berlogo Liverpool di tangannya.

No comments:

Post a Comment

Semua postingan

puisi kota malam

                               Puisi kota malam Matahari balik ke peranduannya Bulan dan bintang keluar menghiasi langit Lampu-lamp...