Translate

Monday, 13 January 2020

New Star Bagian 1

New Star
Bagian 1



Hari ini adalah hari keenam aku bersekolah di SMA 1 Nusa Bangsa Bukittinggi sebagai murid baru, pada pagi ini ini semua murid akan dikumpulkan di lapangan upacara kami berkumpul di tengah-tengah lapangan upacara. Kami dikelilingi oleh belasan stan organisasi dan ekstrakulikuler, ya hari ini adalah hari perkenalan organisasi dan ekstrakulikuler. Bapak Kepsek memberikan pengarahan dan nasehat mengenai organisasi dan ekstrakulikuler yang akan diambil ”hari ini kalian akan diperkenalkan mengenai organisasi dan ekstrakulikuler, silakan bergabung dengan organisasi dan ekstrakulikuler yang sesuai dengan bakat dan minat kalian. Bapak yakin kalian tidak hanya punya potensi dibidang akademik tapi juga dibidang nonakademik, silakan kembangkan bakat kalian di sma ini!”ujar pak Kepsek.
Aku menoleh kesekeliling tapi aku tidak menemukan stan sepak bola,”dimanakah stan sepak bola? Aku berbicara sendiri dengan suara sangat pelan”, jelas aku mencari stan sepak bola karena itu olahraga favoritku sejak taman kanak-kanak dulu. Seorang murid laki-laki berkulit kuning langsat dengan rambut kribo menepuk bahuku dengan suara ekspresif seperti Rock Lee di anime Naruto,”waaahhh keren kau mencari stan sepak bola juga ya?”. Anak itu sangat berisik saking berisiknya aku tidak mendengar jelas apa yang dikatakannya, sampai akhirnya dia memperkenalkan diri, ”namaku Haikal, aku kelas Sepuluh Ipa satu, namamu siapa?” ,tanyanya sambil mengajakku berjabat tangan.
Aku menjabat tangannya seraya memperkenalkan diri,”namaku Ali, dari kelas Sepuluh Ipa lima”sambil tersenyum, sudah jelas anak berisik ini lebih hebat dariku karena kelas Ipa satu adalah kelas unggulan, sementara aku ada di kelas Ipa terakhir yaitu Ipa lima. Untuk sementara murid baru belum dibariskan menurut kelas akan tetapi menurut menurut rombongan belajar saat masih masa perkenalan lingkungan sekolah oleh kakak senior. Ketika asik berbincang dengan Haikal pertanyaan kami terjawab oleh pengarahan “untuk pendaftaran ekskul sepakbola sepertinya besok, karena tim sepak bola SMA 1 Nusa Bangsa Bukittinggi bertanding untuk final Piala Pelajar Bukittinggi jam 9 pagi ini, dimana diluar dugaan kita bisa tembus final tahun ini mereka bertanding di stadion sepakbola Bukittinggi”, ujar pak Kepsek.
Haikal menepuk bahuku”hei Ali kau mau ikut? Aku ada motor kesana”, ajak Haikal. Aku sangat senang mendengarnya dan mengangguk pasti ”tentu saja aku ikut”, setelah pengarahan pak Kepsek selesai barisan dibubarkan dan kami dipersilahkan menuju stan pendaftaran masing-masing sesuai minat dan bakat, karena stan sepakbola tidak ada sejumlah murid memilih pergi ke stadion untuk menonton dan beberapa ada yang memilih pulang. Haikal mengajakku pergi ke kantin “ayo kita makan-makan di kantin, santai biar aku traktir”, awalnya aku menolak karena takut membebani Haikal, mana tau dia butuh uang tapi karena Haikal memaksaku, akhirnya aku ikut.
Aku dan Haikal duduk di meja kantin dengan sepiring bakso dan segelas teh es manis, rasanya aku sangat beruntung karena aku belum makan pagi ibuku masuk kantor lebih pagi karena ada laporan yang harus segera diselesaikan pagi ini. Aku jadi terpikir dengan pernyataan pak Kepsek tadi tanpa ragu aku membuka pembicaraan dengan Haikal yang terlalu sibuk dengan makanannya dan makan dengan sangat lahap “Kal! Kau tau kenapa tadi pak Kepsek bilang tim sma kita diluar dugaan  masuk final Piala Pelajar Bukittinggi?. Haikal sedikit terkejut dan minum sejenak, lalu menjawab pertanyaanku “jelaslah Al, SMA 1 Nusa Bangsa Bukittinggi merupakan tim terlemah diantara 8 tim yang ada, tapi aku dengar bahwa tahun ini tim sma kita kedatangan murid pindahan dari Jakarta, bahkan dia langsung menjadi kapten”.
Aku terkejut mendengar penjelasan Haikal, aku yakin dia bukan orang biasa, Haikal melanjutkan penjelasannya,” IQ 190, namanya Reza, dia murid kelas Sebelas Ipa 1”. Sudah kuduga dia bukan murid biasa, mana mungkin dia bisa jadi kapten padahal murid pindahan dan baru saja pindah, sudah pasti dia punya strategi hebat. Haikal kembali makan” ayo cepat makan sudah jam 8.45 nanti kita telat!”, seru Haikal seraya menunjuk jam dinding yang tepat diatas kepalaku dengan mulutnya. Aku dan Haikal bergegas makan agar tidak ketinggalan pertandingan final, dengan lahap aku menghabiskan Bakso yang sudah mulai dingin itu, Haikal lalu pergi ke kasir untuk membayar lalu mengajakku keparkiran.
Sampai di parkiran aku melihat banyak abang dan kakak kelas yang berkumpul memakai bandana merah, mereka jelas adalah suporter sejati sma ini, mereka memberikan semangat untuk tim sma ini tanpa berharap adanya bayaran. Pukul 9.35 kami sampai di stadion yang telah di penuhi ribuan suporter, pertandingan sudah memasuki menit 38, karena ban motor Haikal yang bocor kami terpaksa harus menambalnya terlebih dahulu dan akhirnya kami terlambat. Kami lalu mencari posisi yang dekat dengan lapangan agar melihat jelas pertandingan, terlihat papan skor untuk sementara SMA 1 Nusa Bangsa Bukittinggi kalah 3-0 dari lawannya SMA Gelora Bukittinggi. Haikal yang ada disebelahku kembali menjelaskan padaku,”ini sudah bagus Al, lolos ke final kita sudah pasti menjadi 2 perwakilan Bukittinggi untuk melaju ke Piala Pelajar Sumatera Barat, lagi pula lawan kita adalah juara 10 tahun berturut-turut menjadi juara”.
Aku mendengar jelas suara hati Haikal yang berharap agar tim ini menang, Haikal tidak sabar menunggu babak kedua dimulai karena saat baru sampai kami hanya menonton sepuluh menit saja. Astaga!, aku baru sadar kalau aku punya kelebihan yakni aku bisa mendengar isi hati orang lain hanya dengan menunjuknya, kenapa aku tidak memakainya saat babak kedua nanti. Pertandingan babak kedua dimulai tim SMA 1 Nusa Bangsa yang berbaju merah  celana merah memasuki lapangan, dan SMA Gelora Bukittinggi yang berbaju Biru tua dengan celana hitam memasuki lapangan. “Pergantian pemain nomor punggung 19 Muhammad Farkhan digantikan nomor punggung 8 Reza Wijaya”, ujar reporter pertandingan menggunakan mikrofon. “waawwww!,Reza langsung diberikan ban kapten ketika masuk, tampak seluruh pemain SMA 1 Nusa Bangsa Bukittinggi apakah dia akan merubah pertandingan?” seru reporter dengan diiringi sorak sorai ribuan suporter yang hadir. “itu bang Reza”, seru aku kepada Haikal seraya menunjuk bang Reza di lapangan, Haikal cuma mengangguk, tentu tujuanku sebenarnya agar Haikal tidak tahu kekuatanku.
Aku merasa bang Reza meremehkan tim lawan,”bodoh sudah kuberi kesempatan tapi mereka hanya bisa mencetak tiga gol?”ujar batinnya, sekilas bang Reza terlihat seperti pemain biasa tubuhnya bahkan kurus untuk level pemain sepakbola, kulitnya putih sama dengan diriku gaya rambutnya mirip Mesut Ozil tahun 2018 ini, sorot matanya tajam jelas dia orang yang tegas. Dari semua ciri-ciri tadi yang paling aku sesalkan adalah dia jauh lebih tampan dariku dan mirip pemain sepakbola timur tengah, sehingga menarik perhatian banyak cewe di sma ini, “Reza tampan wahhh kapan aku memilikinya, hei dia anak sma kami” terdengar suara cewe-cewe sma di tribun suporter yang begitu kagum pada ketampanan Reza.
Babak kedua baru dimulai SMA Gelora Bukittinggi yang memegang bola terlebih dahulu langsung menyerang, mereka menuju kotak penalti SMA 1 Nusa Bangsa dari tengah, unggul kualitas membuat mereka mudah menerobos pertahanan sma kami. Sebuah umpan pacu diberikan pemain tengah SMA Gelora Bukittinggi kepada penyerang mereka yang berdiri bebas sendirian di kotak penalti, “Hendra dan Joni maju kedepan jangan kawal pemain itu!” perintah bang Reza, tanpa ragu mereka maju kedepan. “Bola umpan terobosan kepada striker SMA Gelora di depan bola diterima dan langsung di tembak, daaaann goooll? Empat kosong sekarang pemirsa”, seru reporter dan SMA Gelora Bukittinggi melakukan selebrasi.
Namun seketika reporter tadi kembali berkomentar”ohh tidak ternyata offside pemirsa gol dianulir wasit”, tampak bang Reza hanya diam dengan senyum seperti meremehkan”heh, kalian pikir bisa semudah itu mencetak gol saat aku masuk”, ujar batinnya. Pertandingan kembali dilanjutkan SMA Gelora Bukittinggi terus menyerang tapi anehnya serangan mereka langsung dimatikan sebelum masuk kotak penalti, kalaupun sampai dikotak penalti pasti offside. Bang Reza memang punya strategi sangat mematikan wajar bang Reza memakai nomor punggung 8, dalam sepakbola modern mungkin nomor punggung bebas dimiliki siapa saja, namun sepakbola dulu nomor 8 adalah pemain yang menjadi pengendali penuh dalam sebuah tim. Pemain ini menjadi penyeimbang tim pengatur pola serangan pengatur pola pertahanan, dan sekarang bang Reza sangat memaknai nomor punggung ini dia mengontrol permainan tim bahkan dengan level terlalu sempurna.
“Yaaa, babak kedua sudah berjalan selama 15 menit tapi SMA Gelora Bukittinggi masih menekan, akan tetapi sangat aneh semenjak masuknya Reza Wijaya pertahanan tim ini sangat kokoh, apakah SMA Gelora Bukittinggi juara tahun ini? Melihat SMA 1 Nusa Bangsa yang hanya bertahan?”, ujar reporter.”Tentu saja tidak pak!”aku mendengar suara batin bang Reza tentu saja pertandingan sebenarnya baru dimulai, aku tersenyum yakin sma ku akan juara. Sementara kulihat anak ekspresif Haikal terus melotot dan menonton pertandingan dengan serius seolah tak berkedip, dia berharap banyak agar sma kami jadi juara.
“Hendra berikan bola kepadaku!”pinta bang Reza sambil menerima umpan dari bang Hendra dan mendribel bola dari tengah lapangan .”Tedi dan Rahmat maju kekotak penalti, Ihsan terima ini!”bang Reza memberikan bola kepada bang Ihsan.”Ihsan oper kepada Joni, Joni bermainlah dari sayap kiri dan langsung berikan umpan lambung ke kotak penalti, sayap kanan mereka sudah kelelahan karena di press sejak tadi”bang Reza begitu sigap dan tepat dalam mengatur pola serangan yang selalu sesuai prediksinya pemain sayap kanan tidak mampu mengejar laju pemain sayap kiri sma kami.
“Berbahaya sekali pemirsa serangan yang diatur oleh Reza, Reza wijaya, kali ini Joni berlari kencang menyisir pertahanan sebelah kanan SMA Gelora Bukittinggi bahkan pemain sayap dan bek sayap dilewati dengan mudah. Bola langsung di oper melambung kekotak penalti apa yang terjadi bola diterima Rahmat dia meloncat tinggi sundulan yang begitu tajam ke gawang daaannnn gooolll!!”. Reporter di stadion langsung bersorak gol diikuti sorak sorai suporter, dalam sekejap SMA Gelora Bukittinggi kebobolan hanya dengan satu kali pola serangan.
“Tiga Satu skor saat ini pemirsa, kali ini serangan pemain SMA Gelor, oohhhh mudah sekali kandas pemirsa dapat oleh Reza, Reza berlari kedepan pendek kepada Tedi, Tedi kembali Pada Reza, Reza kepada Joni, Joni kembali kepada Reza, Reza kepada Ihsan, Ihsan umpan terobosan kedepan, dapat oleh Reza daaannnn goool. Skor 3-2 saat ini, 2 gol dalam 5 menit waaaawwwww luar biasa!!”, seru reporter yang sangat terpukau dengan pertandingan ini. “Rezaaaaa, mmmmmuuuuaaahhhh”sorak sorai cewe-cewe ini membuat telingaku gatal saja. Bang Reza benar-benar menggila dalam pertandingan ini baru berselang 3 menit assistnya kepada bang Tedi berhasil berbuah gol skor menjadi 3-3, bang Reza sudah membuat 1 gol dan 1 assist.
Memasuki menit 70 SMA 1 Nusa Bangsa makin menguasai pertandingan, di menit 75 bang Reza berlari sendirian dari tengah lapangan menuju kotak penalti lawan dan melepaskan tembakan yang berujung gol kali ini sma kami unggul 4-3. “Bukan cuman strategiku akan tetapi permainanku juga tidak akan bisa kalian hentikan”, ujar batin bang Reza yang pasti aku bisa mendengarnya karena dengan kekuatanku aku bisa mendengar batin orang yang aku tunjuk. “aduhhh apa ini salah umpan dilakukan oleh Ihsan pemain SMA 1 Nusa Bangsa entah siapa yang dituju tentu saja akan mudah ditangkap kiper. Ternyata salah pemirsa pemain berbaju merah Reza sangat cepat dari belakang mengejar bola itu, kiper juga mengejarnya apa yang terjadi kiper mencoba berlari keluar kotak penalti mencoba menghalau. Ternyata Reza lebih cepat bola melambung tinggi menuju gawang kosong coba diselamatkan pemain SMA Gelora Bukittinggi dan goooollllll, 5-3 pemirsa”lagi reporter terpukau.
“pertandingan selesai wasit meniup peluit panjang, dan SMA 1 Nusa Bangsa menjadi juara dan memutus gelar juara 10 tahun berturut-turut  milik SMA Gelora, selamatt”, seru reporter. Pertandingan selesai hari ini aku tahu siapa itu bang Reza dan kuakui kualitasnya bukan cuma strategi tapi juga hebat dalam bermain sebagai pemain sepakbola levelnya setara pemain nasional, aku sangat terpukau tapi dari perkataan batinnya tadi aku takut kalau bang Reza ini orang yang sombong dan egois. Aku pergi bersama Haikal untuk pulang kerumah, aku juga sudah lapar dan tidak sabar mencoba masakan ibu, kami memilih tidak ikut seremoni sorak sorai kemenangan bersama suporter sma kami di stadion karena jelas kami murid baru yang baru enam hari sekolah. Sebelum pulang aku agak risih dengan seorang lelaki yang seumuran denganku memakai jaket hitam dan kacamata hitam dari tadi dia melihatku dengan ekspresi senang dari tribun atas penonton.

No comments:

Post a Comment

Semua postingan

puisi kota malam

                               Puisi kota malam Matahari balik ke peranduannya Bulan dan bintang keluar menghiasi langit Lampu-lamp...